KDMP Witurombaua Gandeng DPMK ITB Bangun Mesin Ekonomi Desa Menuju Koperasi Model

ITB Dampingi KDMP Witurombaua Perkuat Kelembagaan, Keuangan, Rantai Usaha dan Pengembangan Komoditas Unggulan

LINTASFLORES.COM, WITUROMBAUA — Sebuah desa tidak pernah benar-benar miskin jika masih memiliki tanah yang produktif, laut yang menghasilkan, kebun yang hidup dan masyarakat yang terus bekerja. Yang sering menjadi persoalan justru bukan ketiadaan potensi. Persoalannya adalah bagaimana potensi itu diubah menjadi nilai ekonomi yang lebih besar dan dinikmati kembali oleh masyarakat desa.

Pertanyaan itulah yang kini sedang dijawab Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Witurombaua, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. Melalui kolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), Witurombaua mulai menyusun fondasi pengembangan koperasi yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi bergerak menuju pengelolaan potensi desa dari hulu hingga hilir.

Kolaborasi tersebut dilakukan melalui Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB dalam program “Penguatan Kelembagaan dan Penyusunan Grand Desain Pengembangan Usaha Unggulan Koperasi Desa Merah Putih Witurombaua Berbasis Digital.”

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pengabdian Masyarakat Skema Bottom-Up DPMK ITB Tahun 2026, yang berlangsung pada 9–16 Agustus 2026 di Desa Witurombaua dan Desa Mbaenuamuri, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo.

Dalam kolaborasi tersebut, Ketua KDMP Witurombaua, Irminus Deni, mempresentasikan roadmap pengembangan koperasi untuk periode 2027–2033. Roadmap itu memperlihatkan bahwa koperasi tidak ingin berhenti pada usaha perdagangan dasar.

Tahun 2027 diarahkan sebagai fase membangun fondasi melalui penguatan usaha sembako, grosir, gudang, pemetaan potensi desa dan peningkatan kapasitas SDM. Memasuki tahun 2028, koperasi mulai diarahkan menjadi aggregator/offtaker hasil masyarakat dengan menyerap komoditas seperti kelapa, kopra, tempurung, sabut dan hasil laut.

Kemudian pada 2029, orientasi bergerak pada nilai tambah. Kelapa diarahkan menjadi VCO dan kopra. Sabut dikembangkan menjadi cocopeat dan cocofiber. Tempurung dapat diolah menjadi arang dan briket. Sementara hasil laut diarahkan menuju produk seperti ikan segar, ikan kering, ikan asap dan produk olahan. Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjadi tempat masyarakat menjual hasil produksi. Koperasi mulai diposisikan sebagai pengelola rantai nilai.

Dalam grand desain yang disusun bersama ITB, terdapat sejumlah potensi unggulan Desa Witurombaua yang mendapat perhatian, yakni kelapa, kakao, cengkeh/rempah-rempah dan tenun ikat khas Keo. Potensi tersebut kemudian dilihat bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga kemungkinan pengolahan dan pemasaran.

Ini penting. Sebab nilai ekonomi suatu produk tidak berhenti ketika produk dipanen. Nilai dapat terus bertambah melalui pengolahan, pengemasan, branding, standardisasi, dan pemasaran. Di sinilah koperasi diharapkan mengambil peran lebih besar.

Kelapa menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan tersebut dapat diterapkan. Jika selama ini kelapa dipandang sebagai komoditas, maka koperasi dapat mengembangkan berbagai produk turunannya. Begitu pula dengan sabut dan tempurung. Masing-masing dapat menjadi bagian dari rantai usaha baru.

Sementara hasil laut dapat diarahkan menuju produk yang memiliki daya simpan dan nilai jual lebih tinggi melalui pengeringan, pengasapan maupun pengolahan. Gagasan tersebut sejalan dengan prinsip yang dibangun dalam roadmap KDMP, mengambil nilai tambah, bukan hanya menjual bahan mentah.

Transformasi koperasi juga tidak hanya berbicara mengenai produk setelah panen. Ekosistem usaha perlu dibangun sejak dari hulu. Petani membutuhkan pupuk. Membutuhkan bibit. Membutuhkan sarana produksi. Membutuhkan akses pembiayaan dan pasar.

Karena itu, pengembangan KDMP diarahkan agar koperasi dapat menjadi bagian dari rantai kebutuhan produksi masyarakat sekaligus menjadi saluran penyerapan hasil produksi. Grand desain ITB juga memasukkan penguatan ekosistem produksi dan dukungan terhadap kebutuhan input pertanian sebagai bagian dari pengembangan usaha koperasi. Dengan demikian, koperasi diharapkan hadir sejak, persiapan produksi → produksi → pengumpulan → pengolahan → pemasaran.

Pengembangan usaha tidak akan berjalan jika kelembagaan koperasi lemah. Karena itu, kolaborasi dengan ITB tidak hanya membahas komoditas. Salah satu aspek penting adalah penguatan sistem keuangan dan pembukuan koperasi.

salah satu narasumber dari ITB Tuntun Salamatun Zen, S.E., Ak., M.Si., CA, anggota tim pengabdian masyarakat ITB dari School of Business and Management (SBM) ITB, memberikan pembekalan mengenai pentingnya sistem keuangan yang sehat dan pembukuan yang baik.

“Bagi koperasi yang memiliki target jangka panjang, pembukuan bukan sekadar pekerjaan administratif. Pembukuan menjadi alat untuk mengetahui, berapa modal yang berputar, berapa pendapatan, berapa biaya, usaha mana yang sehat, dan bagaimana kondisi keuangan koperasi. Koperasi yang ingin menjadi model harus terlebih dahulu mampu mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang dikelola.”  katanya kepada peserta pembekalan.

Hal lain yang menjadi kekuatan kegiatan ini adalah cakupan peserta pembekalan. Kegiatan tidak hanya ditujukan kepada pengurus koperasi. Seluruh unsur pemerintahan desa ikut dilibatkan, mulai dari RT, kepala dusun, aparat desa hingga BPD.

Pendekatan ini penting karena pengembangan ekonomi desa tidak mungkin dibebankan hanya kepada pengurus koperasi. RT mengetahui masyarakat di lingkungannya. Kepala dusun mengetahui potensi wilayahnya. Aparat desa memiliki data dan fungsi perencanaan. BPD memiliki fungsi representasi dan pengawasan. Semua unsur tersebut perlu memahami arah pengembangan KDMP.

Terutama ketika koperasi mulai membangun database ekonomi desa, memetakan potensi produksi, mendata pelaku usaha dan mengembangkan rantai pasok. Tujuannya agar seluruh aparat desa memahami bahwa koperasi bukan berdiri di luar pembangunan desa, tetapi menjadi salah satu instrumen ekonomi masyarakat.

Salah satu perubahan penting yang didorong melalui grand desain ITB adalah digitalisasi. Namun digitalisasi yang dimaksud bukan sekadar memiliki media sosial atau toko daring. Grand desain tersebut menempatkan empat fondasi utama database petani dan rantai pasok, traceability produk, sistem operasional dan keuangan digital, serta digital marketing dan e-commerce.

Dengan sistem tersebut, koperasi ke depan diharapkan mampu mengetahui kondisi produksi dan stok secara lebih akurat. Data menjadi dasar pengambilan keputusan. Produk memiliki identitas. Transaksi tercatat. Pasar dapat dijangkau lebih luas. Dan hubungan antara produsen, koperasi dan konsumen menjadi lebih transparan.

Roadmap KDMP Witurombaua tidak berhenti pada ekspansi usaha. Pada 2030, koperasi menargetkan fase kemandirian. Indikatornya bukan banyaknya bantuan yang diterima, tetapi kemampuan usaha membiayai operasionalnya sendiri, memiliki pelanggan dan pemasok tetap, arus kas positif, anggota aktif serta SHU positif. Artinya, koperasi harus belajar berdiri dengan kekuatan bisnisnya sendiri. Bantuan dapat menjadi pemantik. Tetapi bisnis yang sehat harus menjadi mesin utamanya.

Roadmap kemudian membawa mimpi itu lebih jauh. 2031 ditargetkan sebagai fase Koperasi Model Nagekeo. 2032 menjadi fase replikasi. Dan 2033 diarahkan menuju Koperasi Model NTT. Bukan karena memiliki gedung terbesar. Bukan karena memiliki modal terbesar. Tetapi karena memiliki sistem yang dapat dipelajari dan direplikasi. Itulah inti mimpi KDMP Witurombaua.

Kolaborasi dengan ITB memberikan pengetahuan, kerangka dan grand desain. Namun pekerjaan terbesar justru dimulai setelah pembekalan selesai. Potensi harus dipetakan. Data harus dibangun. Pembukuan harus tertib. Produk harus dikembangkan. Kualitas harus dijaga. Pasar harus dicari. Anggota harus dilibatkan. Dan koperasi harus membuktikan bahwa seluruh sistem tersebut mampu menciptakan manfaat ekonomi nyata.

Sebab pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menjadi ukuran keberhasilan. Bukan berapa banyak pelatihan yang dilakukan. Bukan berapa banyak slide yang dipresentasikan. Tetapi apakah petani mendapatkan harga yang lebih baik. Apakah nelayan memperoleh nilai tambah. Apakah produk desa mampu menembus pasar yang lebih luas. Apakah anggota memperoleh manfaat. Dan apakah lebih banyak nilai ekonomi dari kekayaan Witurombaua tetap berputar di Witurombaua.

Kolaborasi KDMP Witurombaua dan ITB pada akhirnya membawa sebuah pesan penting desa tidak harus menunggu menjadi besar untuk mulai membangun sistem ekonomi yang besar.

Witurombaua memiliki potensi. ITB menghadirkan kepakaran. Koperasi menjadi kendaraan. Aparat desa menjadi bagian dari ekosistem. Masyarakat menjadi pelaku. Dan digitalisasi menjadi penghubung menuju pasar yang lebih luas.

Jika seluruh gagasan tersebut berhasil diterjemahkan menjadi kerja nyata, maka kelapa bukan lagi sekadar kelapa. Hasil laut bukan lagi sekadar ikan. Pertanian bukan hanya soal panen. Tenun bukan hanya soal kain. Semua dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi desa yang menghasilkan nilai tambah.

Dari potensi menjadi produk. Dari produk menjadi bisnis. Dari bisnis menjadi kemandirian. Dari Witurombaua menuju Nagekeo. Dan dari Nagekeo menuju NTT. Inilah mimpi KDMP Witurombaua 2027–2033 yang kini sedang dipertajam bersama ITB.

LINTASFLORES.COM
Mengawal potensi lokal, membaca perubahan, dan membawa suara Flores lebih jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top