Pria Ini dalam 30 menit Berpenghasilan 150 Juta, Simak Kisahnya

Penulis : Feliks Hatam

Lintasflores.com- Hari ini kami baru saja bertemu dengan seorang pemuda di sebuah kantin. Pemuda itu bercerita kepada kami dengan penuh semangat, wajahnya memancarkan kebahagian. Wajar, karena ia baru mendapatkan buah dari kiat-kiatnya selama ini, dan semua keinginan dapat terpenuhi. Sebab ia baru saja mendapatkan uang Rp150 juta. Hebat.

Sembari menikmati kopi. Pemuda itu (nama diprivasi) ia mulai bercerita, dari pekerjaanya, bisnisnya, hingga mendapatkan uang Rp150 juta dalam waktu 30 menit.

Ia bercerita tentang pekerjaannya. Suka dan dukanya selama bekerja. Baginya, pekerjaan yang sedang ia jalankan saat itu sangat menantang. Bahkan pernah pasrah dan putus asa. Hari dan bulan berlalu, ia terus berusaha untuk mencintai pekerjaannya dan membangun relasi harmonis dengan teman kerjanya. Ia berharap teman kerjanya menyukainya dan memberi kenyamanan sebagai rekan kerja.

Namun, ia mengatakan, kesempatan dan alam sedang tidak berpihak padanya. Akhirnya setelah enam bulan bekerja ia mengundurkan diri. Menurutnya, tidak ada gunanya bertahan, kalau lingkungan kerja tidak memberinya kenyamanan, disertai orang-orang disekelilingnya tidak menyukainya. Entah apa alasannya. Memikirkannya saja sulit, apalagi mencari alasannya, rumit.

Mendengar itu, salah satu dari kami mencoba memberi saran, “begini bro, soal nyaman dan tidak nyaman bersumber dari bagaimana kita mengartikan kenyamanan itu sendiri, dan bagaimana kita melihat pekerjaan itu sendiri, lalu sejauh mana kita memberi kenyamanan kepada orang lain. Jangan menuntut agar orang memperlakukan kita sesuai keinginan kita, namun sebaiknya selalu intropeksi diri bagaimana kita memperlakukan orang lain. Kadang kita depresi dengan prasangka sendiri karena orang lain tidak memperlakukan diri kita seperti yang kita inginkan”

“Hidup ini sederhana bro. Jangan memikirkan orang lain menyukai kita, sebaiknya kita berusaha agar memperlakukan orang lain sebagaimana mencintai diri kita sendiri. Ingat, bila ada sikap dan tindakan orang lain yang menyebabkan kamu sakit hati, jangan lakukan hal yang sama kepada orang lain. Jika kita membalas/melakukannya juga kepada orang lain, maka jelas orang tersebut juga merasakan apa yang pernah kita alami. Maka rantai sakit hati itu, tidak pernah putus. ” celoteh salah satu dari kami.

Ia pun diam sejenak. “sekarang kerja di mana bro?” tanya salah satu dari kami. “Saat ini saya sedang menekuni bisnis kecil-kecilan”. “Wah,,bagus dong”, sambung kami serempak.

“Tetapi sama saja, selalu ada tantangan, begitu banyak pelanggan yang mengganggu dan memancing emosi” sambung pemuda itu.

Untuk tidak terlarut dalam curahan hatinya, topik pembicaraan beralih. Hingga akhirnya pada Pukul 20.00, kami pulang ke rumah masing-masing.

Kita kembali ke Rp150 juta. Bagiamana ia mendapatkannya, berikut ceritanya.

Sesampai di rumah, ia mengingat kembali obrolan di Kantin tadi, sambil membayangkan, ketika bisnisnya sukses, ia akan menjadi pengusaha sukses dan kaya raya.

Saat ia sedang membayangkan itu, tiba-tiba HPnya berdering. Saat itu, ibarat tidak ada hujan dan tidak ada angin, tiba-tiba ada petir. Pasalnya melalui telepon ia diberikan pinjaman Rp150 juta, dengan catatan dikembalikan seikhlasnya saja bila bisnisnya sukses.

Tanpa berpikir rumit ia menerima tawaran itu. Katanya “Alam sedang memihak kepada saya saat itu”. Tiga menit setelah itu, ia mendapatkan uang tersebut, namun karena “kalimat dikembalikan seikhlasnya saja” Ia memanfaatkan uang tersebut untuk bisnis lain, karena menurutnya bisnis yang sedang ia jalankan sekarang kurang memberi keuntungan sesuai ekspektasinya.

Awalnya bisnis yang baru tersebut berjalan aman dan lancar. Namun beberapa bulan kemudian keuntungan menurun dan modal Rp150 juta habis tanpa laba untuk melanjutkan usaha tersebut. Dirinya sangat kecewa, dan menyesal telah melepaskan bisnis lama yang ia tinggalkan.

Ia depresi dan bawaanya selalu marah. Menurutnya “harapan adalah imajinasi yang mencandu dan mengganggu. Imajinasi akan baik bila diikuti dengan kerja keras, tidak peduli apa kata orang tentang dirinya, dan akan menjadi masalah ketika terlarut dalam imajinasi, dan terus memikirkan anggapan dan penilaian orang lain”.

SIAL, saya sudah masuk dalam imajinasi yang salah, dan secara reflek ia menendang dengan keras tiang tidurnya.

Bangun karena kakinya sakit, ia baru sadar ternyata dirinya baru saja melewati MIMPI yang indah dan menyakitkan. Ia pun bergegas bangun, dan Kembali menikmati secangkir kopi.

Terima kasih, bila Anda telah membacanya sampai selesai. Jangan lupa tertawa, asalkan jangan tertawa sambil minum kopi, apalagi tertawa sambil tersenyum….

Ini adalah cerita fiksi, mohon maaf bila ada kesamaan kisah. Itu hanya kebetulan

(Cerita ini terinspirasi dari “Buku Berani Tidak disukai” hlm: pendahuluan”

 
Kepala Puskesmas Mukun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *