MASYARAKAT TERBUKA

oleh:

GABRIEL SARONG, S.Pd

gabriel-sarong

Guru SMPK Rosa Mistika Waerana

Email: sarong.rolys@gmail.com

Hp: 082147920459

p

Demokrasi partisipatif memberikan kesadaran transitif kritis. Perubahan melalui pertimbangan bersama, penilaian kembali, dialog, merupakan hak masyarakat sebab,  pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Demokrasi kita sedang dalam proses kebebasan tetapi kenyatan ini menunjukan surplus kebebasan rakyat terbelenggu oleh aksi  aktivisme irasional atau penguat memukul lagi masyarakat dalam kebisuan.

Perubahan proses menuntut perubahan ekonomis, pembaharuan pendidikan, aspek edukatif dan organisatoris dari lembaga-lembaga lain. Kesulitan lupa membongkar visi kesadaran dibalik modal. Pendidikan formal menjadi halafan( non dialogis)dan pendidikan informal memberikan praksis keterampilan baru dari kelompok luar, lupa sampai mengubah praksis empiris lama- magis – mitis. Sehingga kembali jatuh ke model pendidikan “ banking concept of education.” Asumsi bahwa pengetahuan susuatu yang padat, statis selesai dipelajari lalu selesai ditangan guru.

Proses mengetahui dipisahkan dengan realistis padahal proses mengetahui adalah dialektis, yaitu manusia dan dunia,  mandeg bila pengetahuan lalu dihafalkan dalam teori karena  proses keterlibatan dalam realitas berhenti. Bila keterampilan –keterampilan diberikan terpisah dari ketotalan praksis manusia, misalnya teknik menanam padi  tidak hanya menjadi padi  tetapi juga soal kultur.

Asumsi keliru bahwa kegiatan pengetahuan dapat berlasung dalam situasi anti-dialog  misalnya guru bertindak sebagai aktor sedangkan murid berlaku sebagai penonton. Salah satu visi kunci filsafat pendidikan Freire sebagai usaha untuk mengatasi “ kebudayan bisu” adalah hal pengucapan kata. Inti pendidikan dialogis adalah “kata” = inti dialog. Dalam  konteks kemasyarakatan perlu ditegaskan pentingnya hak bicara tiap warga , yaitu hak mengucapkan kata sendiri.

Mengucapkan kata sejati ( kata yang sudah ditimbang dalam kesadaran), berati kita mampu menguba dunia, menciptakan dunia secara baru. Dengan pendidikan, tidak Cuma memuat dimensi refleksi tetapi juga dimensi aksi. Bila dimensi aksi dilepas dari kata, maka kata akan menjadi “ verbalisme” yaitu kata kosong yang tidak ampu mengubah dunia( karena kritik mengandalkan keterlibatan = aksi perubahan masyarakat). Bila refleksi ditiadakan maka kata menjadi aktivisme belaka aksi demi aksi.

Dunia tampil  di depan manusia dan mengudang penamaan baru dengan “ kata sejati”  kesejatian kata pengucapan terletak pada kebersamaan dalam menamai, sehinggah kita dapat mengubah dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *